KUNKER KE SINGKAWANG, RAHMAT BAGJA TEGASKAN PENGUATAN PENGAWASAN
|
Singkawang, Badan Pengawas Pemilihan Umum - Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Republik Indonesia, Rahmat Bagja, melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Bawaslu Kota Singkawang dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan Bawaslu di tingkat daerah. Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan jajaran pengawas dalam menghadapi dinamika pemilu dan menjaga kualitas demokrasi di daerah khususnya di masa non tahapan, Jumat (3/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Rahmat Bagja juga menyampaikan arahan terkait pentingnya menjaga independensi, netralitas, dan profesionalitas seluruh jajaran pengawas se-Kalimantan Barat, khususnya di Kota Singkawang. Tantangan penyelenggaraan Pemilu ke depan dinilai semakin kompleks, sehingga dibutuhkan kesiapan mental, pengetahuan, serta kemampuan teknis yang mumpuni untuk menghadapi berbagai potensi pelanggaran dan sengketa.
" Pengawas Pemilu harus memperkuat koordinasi internal sekaligus menyamakan pemahaman terkait langkah strategis pencegahan, penindakan pelanggaran, serta penyelesaian sengketa proses pemilu. Penguatan kapasitas kelembagaan di berbagai tingkatan menjadi fokus utama dalam rangka menciptakan pengawasan yang responsif dan efektif." ujarnya.
Selain melakukan kunker ke Bawaslu Kota Singkawang, Rahmat Bagja juga menjadi pemateri dalam kegiatan Intermediate Training ( Latihan Kader II ) tingkat nasional yang di selenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) Cabang Singkawang Tahun 2026.
Dalam kesempatan tersebut Rahmat Bagja memaparkan tentang ruang kompetisi demokrasi, konsentrasi politik berubah menjadi perlombaan merebut perhatian, bukan lagi meyakinkan lewat argumentasi utuh. Kandidat, partai, aktor politik dipaksa menyesuaikan diri dengan format singkat, visual, dan sensasional.
" Kompetisi demokrasi tidak lagi hanya soal siapa saja yang didukung rakyat, tetapi siapa yang menguasai teknologi distribusi pesan " ucapnya.
Rahmat Bagja juga menjelaskan mengenai algoritma digital untuk kepentingan Pemilu. " Algoritma ini memberikan dampak terhadap Pemilu seperti publik menerima informasi yang tidak seimbang, sehingga publik kehilangan kesempatan memperoleh sudut pandang yang beragam dan mempersempit ruang deliberasi demorasi, serta membentuk polarisai masyarakat dan fanatisme atau dukungan buta yang mudah menyebarkan ujaran kebencian " tegasnya.
Penulis : Darul
Editor : Humas
Dok : Humas